ArticleTeknologi dapat dianalogikan seperti manusia, jika manusia terus tumbuh dan berkembang pesat dari 'bayi' hingga 'dewasa', teknologi juga mengalami hal yang serupa. Perlu kamu ketahui bahwa kini kita sedang berada pada masa di mana teknologi tengah berkembang memasuki fase dewasa. Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan zaman, sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa aktivitas sehari-hari kita sangat bergantung pada bantuan teknologi. Dewasa ini, manfaat dari kehadiran teknologi digital telah dirasakan oleh berbagai kalangan, terlebih lagi pada kalangan Generasi Millennial. Siapakah itu Generasi Millennials, atau lebih tepatnya Millennials? Julukan yang sering disebut-sebut ini ternyata dinobatkan untuk sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir sekitar tahun 1980 sampai dengan tahun 2000an. Menjelang tahun ini, Millennials adalah generasi yang saat ini akan memasuki umur 17 -37 tahun. Millennials sendiri dikenal sebagai generasi yang paling melek terhadap teknologi dibandingkan dengan generasi lainnya. Kemampuan Millennials beradaptasi terhadap perkembangan teknologi digital sangat tinggi, maka mereka juga disebut sebagai generasi digital native. Seperti yang kita ketahui, dunia digital tidak mengenal batasan ruang dan waktu – proses komunikasi yang sebelumnya dilakukan berhari-hari via surat-menyurat, kini dapat dilakukan dengan sekejap melalui aplikasi chatting atau media sosial. Jika dulu kita harus bersusah payah menyusun rencana traveling dari jauh-jauh hari, Millennials dapat dengan mudah memutuskan apakah esok hari mereka akan pergi traveling ke tempat wisata impiannya dengan bantuan aplikasi traveling. Millennials lahir dan tumbuh nyaman di dalam lingkungan yang serba digital, dimana pada akhirnya hal ini berkaitan erat dengan pola pikir dan gaya hidup mereka. Berbagai aktivitas dalam kehidupan generasi ini ditunjang dengan teknologi yang dapat di akses kapan saja dan di mana saja. Millennials hidup dengan budaya yang serba instan, mudah, dan tanpa batasan. Bagi Millennials, segala sesuatu itu pasti dapat dilakukan – dalam artian lain, tidak ada hal yang mustahil.Dengan pola pikir dan gaya hidup tersebut, Millennials cenderung nyaman dengan kebebasan. Kata ‘Bebas’ bagi Millennials diaplikasikan pada berbagai aspek kehidupan mereka seperti kebebasan berekspresi, berpendapat, dan berkreasi. Tidak heran jika generasi ini dikenal lebih dinamis, inovatif, kreatif dan produktif di lingkungan sekitarnya. Kehidupan digital memang memberikan banyak kemudahan dan dampak baik bagi Millennials, namun setiap dampak baik pasti selalu bersandingan dengan dampak buruk. Dibandingkan dengan generasi Baby Boomers (kelahiran tahun 60an), Generasi Millennialss dilihat lebih narsis, gila gadget, dan tidak loyal. Namun jika ditinjau lebih jauh, ternyata Millennials memiliki alasan tersendiri hingga mereka terlihat lebih buruk dari generasi Baby Boomers. Melihat hal tersebut, apakah sifat-sifat diatas yang timbul akibat perkembangan teknologi digital sesungguhnya berarti buruk?Gila gadget memang terkesan buruk, akan tetapi pada kenyataannya, kebiasaan ini tidak selalu berarti negatif. Gadget, contohnya Smartphone, dipilih Millennials sebagai pedoman hidupnya karena semua kebutuhan dapat dilakukan melalui teknologi tersebut – mulai dari menuntaskan tugas pekerjaan sampai dengan kebutuhan bersosialisasi. Selain itu, Millennials dianggap narsis atau dilihat sangat menuntut perhatian dan penghargaan bukan lah hal yang buruk, sifat ini sesungguhnya merupakan bentuk usaha pengembangan diri mereka. Millennials bersedia untuk melakukan usaha ekstra pada pekerjaannya agar mereka dihargai. Dampak dari sifat inilah yang sebetulnya membuat Millennials sebagai pekerja keras. Hal lain yang mencirikan Millennials adalah tingkat kesetiaan atau loyalitas yang cenderung rendah dalam ruang lingkup pekerjaan dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Jobplanet, dengan lebih dari 81 ribu responden generasi milenial, sekitar 70 persen di antaranya pindah kerja dalam jangka waktu 1 sampai 2 tahun. Alasan terbesar mengapa Millennials cepat berpindah hati dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya bukanlah karena mereka cepat bosan, namun karena bagi mereka bekerja adalah tentang perkembangan diri dan mencari pengalaman. Jika suatu perusahaan gagal untuk memberikan yang mereka inginkan, Millennials dapat memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dalam waktu singkat dan tanpa pikir panjang. Tidak sedikit juga yang memilih untuk membangun startup bisnis sendiri ketimbang harus berdiam diri di perusahaan yang tidak dapat memenuhi dahaga mereka akan pengalaman baru.Berkat terobosan model bisnis baru yang ditawarkan generasi ini, kini telah bermunculan banyak platform digital yang berhasil membawa perubahan gaya hidup dan keseharian berbagai kalangan, mulai dari cara berkomunikasi, penyebaran informasi, transportasi, aktifitas berbelanja hingga transaksi pembayaran. Tak jarang juga Millennials yang memberi dampak baik untuk suatu perusahaan berkat ide-ide orisinil yang datang dari diri mereka. Pada 2020, jumlah usia produktif pada generasi milenial diprediksikan akan melonjak hingga 60 persen. Oleh karena itu, generasi ini akan memegang peranan penting dalam menggerakkan perekonomian Indonesia di masa depan. Dengan penguasaan teknologi digital, disertai ide orisinal dan kreativitas, kebebasan berekspresi, dan tentunya juga dengan dukungan seluruh stakeholder, dapat dijamin kedepannya Millennials akan membentuk masyarakat Indonesia yang lebih maju.
READ MORE LIKE THIS
TRENDING ARTICLES
1

MAY YAP

A Trailblazing Business Leader and an Inspiration for Emerging Women Leaders

2

OKSANA KOLESNIKOVA

A Compelling Story of Inspiration and Dedication

3

Aspiring to Make Change

4

SAMSUNG

5

Canon

6

BOSE